Hidayah: Antara Syariat dengan Hakikat
Muqoddimahku.com – Pada kesempatan kali ini saya akan mencoba memberikan sebuah pemikiran lewat tulisan ini. Tulisan ini saya beri judul dengan “Hakikat: Antara Syariat dengan Hakikat”. Tentunya di dalam artikel ini akan disinggung terlebih dahulu mengenai term syariat dan hakikat yang saya maksudkan di sini.
Baca juga:
Syariat dan Hakikat di dalam Artikel ini
Apa yang dimaksud dengan syariat? Tentunya, akan banyak sekali di antara para pembaca yang memiliki definisi dan pemaknaan tentang syariat. Memang makna syariat ini begitu luas. Maka dari itu, saya akan mempersempit maknanya yang berkenaan dengan artikel ini. Dengan begitu, diharapkan para pembaca tidak mendapati kesalahpahaman tentang makna syariat yang saya maksudkan.
Begitu pula term hakikat. Sama seperti term syariat, pastinya akan ada di antara para pembaca yang memiliki pemahaman luas tentang istilah hakikat. Tetapi, di sini akan dijelaskan terlebih dahulu mengenai istilah hakikat yang saya maksudkan. Sehingga diharapkan tidak ada kesalahpahaman antara penulis dan pembaca.
Syariat
Syariat secara umum kita kita kenal merupakan sebuah hukum-hukum berdasarkan dalil-dali yang bersumber dari al-Quran dan sunnah Nabi Muhammad saw.. Tetapi, syariat juga kadang diartikan dengan sebuah usaha lahiriah manusia yang bisa diindera. Kita mengenal istilah di dalam bahasa Sunda “nyare’at” yang biasa diartikan dengan sebuah usaha lahiriah. Begitu lah syariat yang dimaksudkan di dalam artikel ini, yaitu sebuah usaha lahiriah baik itu perihal akhirat maupun perihal duniawi.
Hakikat
Hakikat secara bahasa dapat diartikan sebagai suatu kebenaran hakiki. Suatu kebenaran hakiki merupakan suatu kebenaran yang tidak bisa diganggu-gugat. Misalnya, adanya Tuhan merupakan sebuah hakikat karena kebenaran adanya Tuhan tidak bisa dipatahkan oleh pemikiran manusia secerdik apapun. Namun, hakikat juga biasa diartikan sebagai sebuah kekuatan yang maha besar di luar kekuatan manusia.
Hidayah: Antara Syariat dengan Hakikat
Akhir-akhir ini saya sedang mengkaji surat yasin tepatnya di bagian ayat 8 sampai 12. Berikut ini ayatnya.
إِنَّا جَعَلْنا فِي أَعْناقِهِمْ أَغْلالاً فَهِيَ إِلَى الْأَذْقانِ فَهُمْ مُقْمَحُونَ (8) وَجَعَلْنا مِنْ بَيْنِ أَيْدِيهِمْ سَدًّا وَمِنْ خَلْفِهِمْ سَدًّا فَأَغْشَيْناهُمْ فَهُمْ لَا يُبْصِرُونَ (9) وَسَواءٌ عَلَيْهِمْ أَأَنْذَرْتَهُمْ أَمْ لَمْ تُنْذِرْهُمْ لَا يُؤْمِنُونَ (10) إِنَّما تُنْذِرُ مَنِ اتَّبَعَ الذِّكْرَ وَخَشِيَ الرَّحْمنَ بِالْغَيْبِ فَبَشِّرْهُ بِمَغْفِرَةٍ وَأَجْرٍ كَرِيمٍ (11) إِنَّا نَحْنُ نُحْيِ الْمَوْتى وَنَكْتُبُ مَا قَدَّمُوا وَآثارَهُمْ وَكُلَّ شَيْءٍ أَحْصَيْناهُ فِي إِمامٍ مُبِينٍ (12)
Ayat-ayat di atas menjelaskan beberapa poin yang akan diuraikan di bawah ini.
1. Al-Quran memberi tahu kita bahwa ada orang-orang yang sudah ditutup pintu hatinya untuk menerima hidayah.
2. Al-Quran memberi tahu kita bahwa peringatan yang kita berikan kepada orang-orang yang telah ditutup pintu hatinya tidak akan membuat mereka beriman kepada Allah.
3. Al-Quran memberi tahu kita bahwa ada orang-orang yang akan menerima dakwah dan peringatan kita untuk beriman kepada Allah.
4. Al-Quran memberi tahu kita bahwa hidayah hanya milik Allah namun hal ini tidak menggugurkan usaha kita untuk memperingati orang yang tidak beriman kepada Allah.
Akhir kata dapat kita mengerti bahwa perintah dakwah dan memberi peringatan kepada orang lain akan kemahabesaran Allah tidak akan gugur karena ditutupnya hati orang yang ditakdirkan oleh Allah. Dakwah harus terus berlanjut dan itu lah sebuah syariat. Sedangkan hidayah hanya milik Allah dan itu lah sebuah hakikat.
Semoga bermanfaat.

0 Response to "Hidayah: Antara Syariat dengan Hakikat"
Post a Comment