Bahasan: Senyum adalah Suatu Kebaikan
Setelah kita membahas ceramah singkat tentang senyum yang berjudul “Senyum adalah suatu kebaikan”, selanjutnyna kita akan melakukan pembahasan lebih lanjut mengenai hadis yang dijadikan dalil dalam tulisan ceramah tersebut.
Berikut ini bahasannya.
وَ عَنْ أَبِيْ ذَرٍّ رَضِيَ اللهُ عَنْهُ قَالَ: قَالَ لِيْ رَسُوْلُ اللهِ صَلَّى اللهُ عَلَيْهِ وَ سَلَّمَ: {لَا تَحْقِرَنَّ مِنَ الْمَعْرُوْفِ شَيْئًا وَ لَوْ أَنْ تَلْقَى أَخَاكَ بِوَجْهٍ طَلْقٍ} رَوَاهُ مُسْلِمٌ
Artinya: Diterima dari Abu Dzar ra., beliau berkata: Rasulullah saw. telah bersabda kepadaku: Janganlah engkau meremehkan perbuatan baik sedikitpun meski engkau menemui saudaramu dengan wajah yang ceria. HR. Muslim
Secara umum, hadis di atas menjelaskan tentang banyaknya jalan kebaikan. Kita semua telah mengetahui bahwa berlomba-lomba dalam kebaikan itu adalah suatu hal yang diperintahkan. Sementara itu jalan menuju kebaikan itu sangat lah banyak. Salah satunya adalah hadis di atas yang menyebutkan bahwa salah satu kebaikan itu adalah menebar senyum.
Isi hadis di atas akan kita buat dengan dua penjelesan. Bagian pertama menjelaskan tentang larangan meremehkan suatu kebaikan apa pun. Bagian kedua menjelaskan tentang salah satu bentuk kebaikan yang kecil yaitu menebar senyum.
Bagian I
Ada sebuah larangan Rasulullah, yaitu meremehkan atau menganggap kecil suatu bentuk kebaikan. Yang menarik pada redaksi hadis di atas adalah kata “ma’ruf”. Kata “ma’ruf” biasa diartikan suatu kebaikan.
Perlu kita ketahui bersama bahwa yang dimaksud dengan “ma’ruf” adalah suatu kebaikan yang erat kaitannya dengan adat atau budaya di suatu wilayah. Suatu kebaikan yang biasa dilakukan di wilayah tertentu itu harus selalu diamalkan selama tidak berlawanan dengan syariat Islam. Kebaikan di sini dibatasi hanya pada ruang lingkup akhlak atau perilaku keseharian sesama manusia.
Jadi poinnya adalah suatu kebaikan yang dianggap baik oleh sekelompok orang di wilayah tertentu selama itu tidak berlawanan dengan syariat dan bukan bentuk peribadahan yang bersifat tuntunan maka itu bisa dilakukan. Dan kita umat Islam dilarang untuk meremehkan bentuk kebaikan tersebut berdasar pada hadis di atas.
Bagian II
Rasulullah mencontohkan suatu kebaikan yang kecil sehingga banyak disepelekan yaitu tersenyum. Tersenyum merupakan suatu hal yang sederhana dan kadang dianggap teu pira (terj. sepele).
Padahal tidak sesepele itu. Senyum merupakan suatu perbuatan yang dapat mendatangkan kelapangan hati di antara sesama manusia. Menebar senyum berarti menebar kebahagiaan. Menebar senyum merupakan salah satu jalan menuju kebaikan. Ketika kita ingin mengamalkan “berlomba-lomba dalam kebaikan”, maka salah satu bentuknya adalah menebar senyum.
Bijak dalam Pemahaman Hadis
Hadis ini merupakan hadis qauliyah (perkataan) yang berisi sebuah perintah untuk tidak melakukan (larangan). Hadis ini diterima dari sahabat Nabi yaitu Abu Dzar dan periwayatan terakhirnya salah satunya disampaikan oleh Imam Muslim.
Hadis ini berisi sebuah nasihat untuk umat Islam agar tidak meremehkan suatu bentuk kebiakan apa pun. Rasulullah mencontohkan suatu kebaikan yang sederhana tersebut adalah menebar senyum. Pengamalan hadisnya adalah menebar senyum karena senyum merupakan suatu kebaikan.
Tetapi lebih dari itu semua, bentuk kebaikan yang termasuk kategori “ma’ruf” itu sangat lah banyak. Tidak hanya senyum saja, tetapi semua bentuk kebaikan yang seolah kecil maka itu layak untuk dilakukan.
“Ma’ruf” telah dijelaskan pada bagian pertama, yang intinya adalah segala bentuk kebaikan moral di suatu wilayah tertentu yang tidak berlawanan dengan syariat Islam maka itu termasuk kategori “ma’ruf”. Sementara inti dari senyuman itu sendiri adalah memberikan kelapangan dada atau kebahagiaan kepada orang lain. Salah satu bentuknya adalah senyum, tetapi tidak menutup kemungkinan ada bentuk lainnya.
Baca juga:
Terimakasih, mari berdiskusi.

0 Response to "Bahasan: Senyum adalah Suatu Kebaikan"
Post a Comment