Kisah Nabi Ibrahim as bersama Kaumnya: Dakwah kepada Ayahnya dan Penyembah Berhala

muqoddimahku.com - Pada kesempatan kali ini kita akan membahas obrolan pintar tentang kisah nabi Ibrahim as bersama kaumnya. Beliau adalah Ibrahim putra Tarakh (berusia 250 tahun) putra Nahur (berusia 148 tahun) putra Sarugh (berusia 230 tahun) putra Raghua (berusia 239 tahun) putra Falagh (berusia 439 tahun) putra Abar (berusia 464 tahun) putra Syalakh (berusia 433 tahun) putra Arfakhsyad (berusia 438 tahun) putra Sam (berusia 600 tahun) putra Nuh as. Ibu Nabi Ibrahim as bernama Umailah atau Nuna (terdapat dua pendapat).

Kisah Nabi Ibrahim as bersama kaumnya



Berikut ini kisah Nabi Ibrahim as bersama kaumnya.


Nabi Ibrahim diberi kunyah Abu ad-Dhaifan. Nabi Ibrahim memiliki dua saudara yaitu Nahur dan Haron. Nabi Ibrahim as merupakan anak pertengahan. Dan Haron ini merupakan ayah dari Nabi Luth as.

Nabi Ibrahim as dilahirkan di Babilonia. Nabi Ibrahim as menikahi Siti Sarah. Siti Sarah ini dikatakan mandul. Selanjutnya Nabi Ibrahim as bersama Siti Sarah, Tarakh, dan Luth pergi meninggalkan Babilonia menuju Palestina. Mereka tinggal di daerah Harron. Tarakh meninggal di sana pada usia 250 tahun.

Di daerah singgahannya itu, orang-orang menyembah 7 bintang dengan berhala-berhalanya. Sehingga seluruh manusia pada saat itu kufur kepada Allah kecuali tiga orang di sana yakni Nabi Ibrahim as, Siti Sarah, dan nabi Luth.

Nabi Ibrahim as adalah orang yang diutus Allah untuk berdakwah pada zaman itu. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَإِبۡرَٰهِيمَ إِذۡ قَالَ لِقَوۡمِهِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ وَٱتَّقُوهُ ۖ ذَٰلِكُمۡ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُمۡ تَعۡلَمُونَ

"Dan (ingatlah) Ibrahim, ketika dia berkata kepada kaumnya, "Sembahlah Allah dan bertakwalah kepada-Nya. Yang demikian itu lebih baik bagimu, jika kamu mengetahui."
(QS. Al-'Ankabut 29: Ayat 16)

Kisah Nabi Ibrahim Dakwah kepada Ayahnya


Dakwah Nabi Ibrahim as dilakukan pertama kali adalah kepada ayahnya. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ يَٰٓأَبَتِ لِمَ تَعۡبُدُ مَا لَا يَسۡمَعُ وَلَا يُبۡصِرُ وَلَا يُغۡنِي عَنكَ شَيۡئًا

"(Ingatlah) ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya, "Wahai ayahku! Mengapa engkau menyembah sesuatu yang tidak mendengar, tidak melihat, dan tidak dapat menolongmu sedikit pun?"
(QS. Maryam 19: Ayat 42)

Dalam berdakwah, Nabi Ibrahim as menggunakan tutur kata yang lembut dan bahasa yang halus. Meski begitu, dakwah Nabi Ibrahim as ditolak oleh ayahnya itu. Dalam sebuah hadits dikisahkan bahwa pada hari kiamat nanti wajah Azar itu akan  kusam berdebu. Azar akan menyesali perbuatannya yang tidak mengikuti perkataan Nabi Ibrahim as sehingga membuat Azar termasuk orang yang kafir.

Dakwah kepada Kaumnya yang Menyembah Bintang 


Sebagaimana telah dikatakan bahwa penduduk Harron itu merupakan penyembah bintang-bintang. Nabi Ibrahim as menjelaskan bahwa bintang-bintang itu meskipun indah nan bercahaya tetap saja tidak layak disembah. Tidak pula bisa dijadikan sekutu bagi Allah.

Bintang itu merupakan makhluk yang teratur dan memiliki waktu. Bintang itu kadang terbit, kadang terbenam, dan kadang menghilang. Sementara Dzat yang kita sembah tidak mungkin seperti itu.

Begitu pula dengan bulan dan matahari. Kesemuanya itu tidak layak disembah karena memiliki banyak kekurangan. Sementara Dzat yang layak disembah itu adalah Dzat yang maha sempurna yaitu Allah SWT.

Kisah Nabi Ibrahim Berdakwah kepada ara Penyembah Berhala


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

إِذۡ قَالَ لِأَبِيهِ وَقَوۡمِهِۦ مَا هَٰذِهِ ٱلتَّمَاثِيلُ ٱلَّتِيٓ أَنتُمۡ لَهَا عَٰكِفُونَ

"(Ingatlah), ketika dia (Ibrahim) berkata kepada ayahnya dan kaumnya, "Patung-patung apakah ini yang kamu tekun menyembahnya?""
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 52)

Nabi Ibrahim as mengingkari perbuatan kaumnya yaitu menyembah berhala. Kaum mereka berdalih bahwa mereka mengikuti peribadahan yang dilakukan oleh nenek moyang mereka. Nabi Ibrahim lalu mempertanyakan tentang kuasa yang bisa dilakukan para berhala itu. Padahal berhala itu tidak bisa mendengar dan tidak pula bisa menjawab.

Ketika kaum Nabi Ibrahim as tidak bisa diajak dengan lisan, maka perbuatan lah yang harus bertindak. Sehingga Nabi Ibrahim as menghancurkan berhala-berhala mereka agar mereka tersadar bahwa melakukan peribadahan kepada suatu hal yang tidak bisa membela dirinya adalah hal yang salah. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَتَٱللَّهِ لَأَكِيدَنَّ أَصۡنَٰمَكُم بَعۡدَ أَن تُوَلُّواْ مُدۡبِرِينَ

"Dan demi Allah, sungguh, aku akan melakukan tipu daya terhadap berhala-berhalamu setelah kamu pergi meninggalkannya."
(QS. Al-Anbiya 21: Ayat 57)

Dikisahkan dalam sebuah pesta rakyat di zaman itu, semua orang akan menghadiri acara di pusat kota. Kala itu Nabi Ibrahim as tidak berkenan hadir pada acara tersebut dengan beralasan sakit. Pada acara itu lah Nabi Ibrahim bersaksi merusak berhala-berhala sesembahan mereka. Hal ini dilakukan tidak lain adalah untuk membuktikan salahnya hujah mereka dalam menyembah berhala.

Para penyembah berhala itu malah berbalik marah kepada Nabi Ibrahim as. Mereka tidak sadar pula bahwa tujuan dari penghancuran berhala itu untuk membuktikan apakah benar berhala itu Tuhan atau bukan. Namun Nabi Ibrahim as malah dihukum dengan hukuman dibakar.

Alhamdulillah, Allah membantu Nabi Ibrahim as yang akan dibakar hidup-hidup. Tanda kebesaran Allah diperlihatkan dengan sangat jelas ketika api yang membakar Nabi Ibrahim as terasa dingin oleh Nabi Ibrahim as. Dan untuk kesekian kalinya, para penyembah berhala itu dikalahkan dalam hujahnya.

Demikian obrolan pintar kita tentang kisah Nabi Ibrahim as bersama kaumnya. Semoga bermanfaat.

Baca juga:

0 Response to "Kisah Nabi Ibrahim as bersama Kaumnya: Dakwah kepada Ayahnya dan Penyembah Berhala "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel