Bahasan Thaha 114
Tulisan ini berisi sebuah bahasan yang merupakan tindak lanjut dari artikel ceramah singkat tentang ilmu yang diberijudul “Ilmu itu diberikan oleh Allah swt”. Pada artikel ceramah tersebut disertakan surat Thaha ayat 114 yang menjadi sebuah pembelajaran tentang hakikat ilmu.
Baca juga:
Bahasan Thaha 114
فَتَعَٰلَى ٱللَّهُ ٱلْمَلِكُ ٱلْحَقُّ ۗ وَلَا تَعْجَلْ بِٱلْقُرْءَانِ مِن قَبْلِ أَن يُقْضَىٰٓ إِلَيْكَ وَحْيُهُۥ ۖ وَقُل رَّبِّ زِدْنِى عِلْمًا
Artinya: Maka Maha Tinggi Allah Raja Yang sebenar-benarnya, dan janganlah kamu tergesa-gesa membaca Al qur'an sebelum disempurnakan mewahyukannya kepadamu, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan"
Secara umum, ayat ini menjelaskan tentang peristiwa pewahyuan al-Qur’an kepada Nabi Muhammad melalui Malaikat Jibril. Yang mana pada ayat ini dijelaskan tentang kekuasaan Allah dalam pewahyuan al-Qur’an tidak akan memberatkan Nabi Muhammad dalam menghafalnya.
Tetapi jika dirincikan, ayat ini dapat dijelaskan dalam tiga bagian. Bagian pertama menjelaskan tentang keagungan Allah. Bagian kedua menjelaskan tentang pewahyuan al-Qur’an. Dan bagian ketiga menjelaskan tentang hakikat ilmu.
Bagian I
Pada ayat ini, Allah menjelaskan dan menegaskan keagungannya, Maha Tinggi Allah, Maha Raja Allah, dan Maha Benar Allah. Kemahatinggian Allah, kemaharajaan Allah, dan kemahabenaran Allah merupakan tiga hal yang mesti kita yakini dengan hati yang benar-benar bersih.
Misalnya pada kemahabenaran-Nya dijelaskan bahwa Allah Maha Benar, janji Allah itu sesuatu yang haq, ancamannya sesuatu yang haq, para Rasul-Nya haq, dan surga serta nerakanya adalah haq. Semua hal diatas perlu kita yakini dengan hati sehingga muncul dari ucapan dan terwujud dalam setiap perbuatan.
Allah tidak akan menyiksa seorang hamba pun sebelum datang kepadanya peringatan dan pengutusan Rasul. Nabi Muhammad diutus untuk seluruh umat manusia dan juga bagi kalangan ghaib seperti golongan Jin. Dalam risalah kenabiannya, kita diberitahu bahwa kita selaku manusia merupakan makhluk yang diciptakan. Sang Pencipta tersebut adalah Allah. Sehingga karena pengetahuan itu lah kita tidak akan memiliki hujjah (alasan) dan keraguan untuk beribadah kepada-Nya.
Bagian II
Ayat ini juga menjelaskan tentang peristiwa pewahyuan al-Qur’an. Ayat ini senada dengan firman-Nya di dalam surat al-Qiyamah ayat 16-17. Diceritakan oleh Ibnu Abbas bahwa Rasulullah mendapatkan kesulitan dalam penerimaan wahyu. Hal ini dikarenakan Rasulullah adalah seorang yang ummi (tidak bisa membaca dan menulis).
Ibnu Abbas melanjutkan bahwa Rasulullah pernah mengiringi bacaan Jibril dalam pewahyuan al-Quran. Hal ini dilakukan Rasulullah dikarena khawatir tidak bisa menghafalnya dengan mudah. Sehingga Allah menjelaskan kepada Rasulullah agar tidak khawatir akan pewahyuannya. Allah menegaskan bahwa sudah menjadi tanggung jawabnya untuk memberikan hafalan al-Quran kepada Rasulullah. Setelah itu, Rasulullah merubah metode pembelajarannya dalam pewahyuan. Rasulullah mengikuti bacaan Jibril setelah Jibril selesai membacakan wahyu tersebut.
Perlu kita ketahui bahwa sifat ummi-nya Rasulullah bukanlah sesuatu yang negatif. Terdapat hikmah yang sangat besar dari sifat ummi-nya Rasulullah, yaitu untuk menumbuhkan keyakinan umatnya bahwa al-Qur’an itu bukan buatan dan tulisan Rasulullah melainkan adalah wahyu dari Allah.
Bagian III
Selanjutnya adalah bahasan mengenai ilmu. Rasulullah diperintahkan untuk meminta kepada Allah agar ditambahkan ilmu dari-Nya. Allah berfirman, yang artinya: dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan".
Rasulullah bersabda mengajarkan kepada kita sebuah doa agar ditambahkan ilmu:
اللَّهُمَّ انْفَعْنِي بِمَا عَلَّمْتَنِي، وَعَلِّمْنِي مَا يَنْفَعُنِي، وَزِدْنِي عِلْمًا، وَالْحَمْدُ للهِ عَلَى كُلِّ حَالٍ وَأَعُوذُ بِاللَّهِ مِنْ حَالِ أَهْلِ النَّارِ
Artinya: “Ya Allah, berilah kemanfaatan kepadaku dari ilmu yang telah kau ajarkan (berikan), ajarkanlah (berikanlah) ilmu kepadaku yang memberikan kemanfaatan, tambahkanlah ilmu kepadaku, segala puji bagi Allah dalam setiap keadaan, dan aku berlindung kepada Allah dari keadaan penduduk neraka.”
Di sini kita diajarkan sebuah hakikat tentang ilmu. Berkaca kepada firman Allah yang artinya, dan katakanlah: "Ya Tuhanku, tambahkanlah kepadaku ilmu pengetahuan", maka kita dapat memahami ini dengan dua jalur: hakikat dan syariat.
Pada hakikatnya, ilmu itu diberikan oleh Allah kepada siapa saja yang dikehendaki-Nya. Hal ini perlu kita yakini dengan hati yang bersih untuk menghilangkan sifat kesombongan yang ada di dalam diri kita. Memang benar seperti itu, ketika kita selalu yakin bahwa ilmu yang kita miliki ini sebuah pemberian dan anugerah dari Allah, maka tidak ada peluang hadirnya kesombongan.
Sedang pada jalur syariat, ilmu itu harus kita cari dan usahakan. Salah satu bentuk usaha yang pasti adalah dengan meminta kepada Allah agar diberi ilmu dan sennatiasa ditambahkan ilmu. Bentuk usaha lainnya adalah dengan mencari ilmu baik itu melalui pendidikan formal seperti menjalani pendidikan pesantren atau sekolah. Atau juga melalui pendidikan non formal seperti mencari berbagai pengalaman, sehingga dari pengalaman itu akan terbentuk sebuah pengetahuan.
Sekian dan terimakasih. Mari berdiskusi baik itu di kolom komentar atau menghubungi kontak yang telah tersedia. Menghadirkan diskusi tidak lain adalah untuk mencapai ilmu yang bijak dan lebih baik. Karena sejatinya tulisan ini jauh dari kata sempurna.

0 Response to "Bahasan Thaha 114"
Post a Comment