Bahasan Alu Imran ayat 200

Pada kesempatan kali ini kita akan melakukan bahasan surat Alu Imran ayat 200. Ayat ini merupakan ayat tentang sabar yang dimuat dalam artikel ceramah singkat berjudul “Perintah Allah agar Kaum Mu’min Bersabar”. Saya melihat sebuah urgensitas untuk melakukan bahasan yang lebih luas selain dalam bentuk ceramah.

Baca juga:


ceramah singkat tentang sabar


Bahasan Alu Imran ayat 200


يَٰٓأَيُّهَا ٱلَّذِينَ ءَامَنُوا۟ ٱصْبِرُوا۟ وَصَابِرُوا۟ وَرَابِطُوا۟ وَٱتَّقُوا۟ ٱللَّهَ لَعَلَّكُمْ تُفْلِحُونَ

Artinya: Hai orang-orang yang beriman, bersabarlah kamu dan kuatkanlah kesabaranmu dan tetaplah bersiap siaga (di perbatasan negerimu) dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung.

Ayat ini merupakan salah satu ayat yang memerintahkan sabar. Terdapat beberapa poin penting yang terkandung di dalam ayat ini. Untuk selanjutnya kita akan menjelaskan ayat ini disesuaikan dengan poin-poinnya secara terperinci.

Bagian I Sabar

Allah memerintahkan agar hamba-hambanya bersabar. Di dalam ayat ini pun seperti itu. Kita diperintahkan untuk bersabar dalam menjalankan agama yang diridloi-Nya, yakni Islam. Kesabaran ini bersifat mutlak tidak peduli dalam keadaan senang, sedih, sulit, atau pun mudah. Kesabaran dalam menjalankan Islam hanya terhenti pada saat kita semua mati.

Bersabar juga diperintahkan dalam menjalankan solat lima waktu. Solat lima waktu merupakan salah satu bentuk peribadahan yang pokok dalam Islam. Tentunya seseorang membutuhkan kesabaran dalam menjalankan solat lima waktu ini.

Bagian II Mushobaroh (Menguatkan kesabaran)

Selain diperintahkan bersabar, kita juga diperintahkan untuk menguatkan kesabaran (mushobaroh) kita. Penguatan kesabaran ini diperlukan dalam keadaan ketika berhadapan dengan musuh. Musuh yang dimaksud di sini adalah orang-orang kafir yang menghalangi peribadahan kita kepada Allah atau akrab disebut dengan kafir harbi.

Ketika kita berada dalam posisi atau lingkungan kafir harbi, maka sabar berlipatganda sangat diperlukan. Karena hal itu merupakan situasi yang sulit. Maka dari itu, setelah memerintahkan sabar, Allah memerintahkan juga dalam firman-Nya, yang artinya “dan kuatkanlah kesabaranmu”.

Penguatan kesabaran atau mushobaroh itu sendiri dapat dipraktikkan dalam menghalau hawa nafsu. Hawa nafsu merupakan salah satu bentuk dari musuh yang berat bagi serorang muslim. Oleh karena itu, musobaroh (penguatan kesabaran) diperlukan untuk mengendalikan hawa nafsu.

Bagian III Murobatoh (Bersiap)

Murobatoh (bersiap) yang difirmankan-Nya dalam ayat ini memiliki berbagai makna. Salah satu dari makna murobatoh adalah terus-menerus berada di tempat ibadah sembari melaksanakan ibadah. Salah satu bentuknya adalah menunggu solat Isya di masjid diisi dengan berdzikir dalam bentuk apa pun. Jadi ketika seseorang selesai melaksanakan solat maghrib, ia tidak pulang ke rumah tetapi berdiam di masjid menunggu waktu solat Isya. Itu lah salah satu bentuk pengamalan murobatoh.

Makna lain dari murobatoh (bersiap) ini adalah bersiap siaga dalam menghadapi musuh-musuh Islam ketika terjadinya perang. Dalam pengertian ini, murobatoh dapat diistilahkan dengan berpatroli ketika peperangan.

Bijak dalam Pemahaman

Sabar, musobaroh, dan murobatoh merupakan perincian dari taqwa. Hal ini senada dengan firman Allah dalam ayat ini, yang artinya “dan bertakwalah kepada Allah, supaya kamu beruntung”.

Sabar merupakan perkara hati. Bentuk pengamalannya adalah dengan senantiasa melaksanakan peribadahan kepada Allah dengan hati yang ikhlas. Memiliki budi pekerti yang luhur kepada sesama manusia.

Mushobaroh merupakan kesabaran yang berlipat. Sama seperti sabar, mushobaroh juga perkara hati. Ketika seseorang dihadapkan dengan kesulitan yang berlipat seperti dihadapkan dengan musuh yang nyata atau pun hawa nafsu, maka mushobaroh atau berlipatgandanya sabar diperlukan dalam situasi tersebut.

Murobatoh juga diperintahkan oleh Allah. Pengamalan yang dari dulu sampai sekarang bisa dipraktikkan adalah terus-menerus berada di tempat ibadah dalam melaksanakan ibadah yang dapat terwujud dalam robit di masjid dalam waktu antara maghrib dan isya. Salah satu bentuk murobatoh juga adalah berpatroli ketika perang. Meskipun saat ini, peperangan yang diperintahkan Allah sudah sulit diamalkan atau dipraktikkan.

Sekian dan terimakasih. Seperti biasanya dalam tulisan bahasan ini, saya meluangkan kesempatan bagi siapa saja untuk berdiskusi demi tercapainya kemaslahatan dalam ilmu dan amal.

0 Response to "Bahasan Alu Imran ayat 200"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel