Kisah Madyan Kaum Nabi Syuaib as

muqoddimahku.com - Kisah Madyan merupakan kisah lain yang banyak diceritakan di dalam Al-Qur'an. Di antara ayat-ayat yang menyebutkan kisah Madyan adalah:

1. QS. Al-A'raf ayat 85-93
2. QS. HUD ayat 84-95
3. QS. Al-Hijr ayat 78-79
4. QS. Asy-Syu'ara' ayat 176-191

Kisah madyan kaum nabi syuaib



Latar Belakang Madyan (Kaum Nabi Syuaib)


Penduduk Madyan itu merupakan orang Arab 'aribah (Arab asli) yang menempati suatu kota yang disebut Madyan. Madyan ini merupakan suatu wilayah dataran Mu'an di ujung-ujung negeri Syam; berbatasan dengan Hijaz dekat dari laut kecil kaum Nabi Luth. Penduduk Madyan ini merupakan keturunan seorang lelaki bernama Madyan bin Madyaan bin Ibrahim as.

Nabi Syuaib adalah Nabi yang diutus kepada mereka. Silsilah nabi Syuaib adalah Syuaib bin Maikail bin Yasyjan. Nabi Syuaib juga dikenal dengan nama Batsrun. Namun nama Batsrun masih diperbedatkan kebenarannya. Pendapat kedua menyebutkan silsilah lain dari Nabi Syuaib yaitu Syuaib bin Yasyjan bin Lawi bin Ya'qub as. Pendapat ketiga menyebutkan Syuaib bin Tsawib bin Abaqo bin Madyan bin Ibrahim as. Pendapat keempat menyebutkan Syuaib bin Sifur bin Abaqo bin Tsabit bin Madyan bin Ibrahim as. Dan masih ada beberapa pendapat lain tentang silsilah Nabi Syuaib.

Neneknya atau ibunya nabi Syuaib adalah anak perempuan dari Nabi Luth as. Nabi Syuaib ini termasuk orang yang beriman kepada Nabi Ibrahim as, berhijrah bersamanya sampai memasuki daerah Damaskus. Nabi Syuaib dan Bal'am merupakan orang yang beriman kepada Nabi Ibrahim as pada hari Nabi Ibrahim as diberi hukuman bakar. Namun beberapa pendapat di atas masih diperdebatkan kebenarannya.

Dosa-dosa Kaum Nabi Syuaib


Penduduk Madyan itu adalah orang-orang kafir. Diantara dosa mereka adalah merampok jalan, mengganggu orang-orang di perjalanan, dan menyembah pohon Aikah. Mereka ini termasuk orang-orang yang paling buruk dalam berbisnis (muamalah). Mereka curang dalam timbangan dan takaran.

Allah SWT mengutus Nabi Syuaib yang ditugaskan untuk berdakwah: mengajak mereka bertauhid kepada Allah SWT dan tidak menyekutukan dalam peribadahannya. Nabi Syuaib as juga berdakwah: mengajak mereka untuk meninggalkan dosa-dosa yang dilakukan mereka. Sebagian dari kaum Nabi Syuaib as beriman. Namun kebanyakan dari mereka tetap dalam kekafirannya.

Allah SWT berfirman dalam surat al-A'raf ayat 85:

وَإِلَىٰ مَدۡيَنَ أَخَاهُمۡ شُعَيۡبًا ۚ قَالَ يَٰقَوۡمِ ٱعۡبُدُواْ ٱللَّهَ مَا لَكُم مِّنۡ إِلَٰهٍ غَيۡرُهُۥ ۖ قَدۡ جَآءَتۡكُم بَيِّنَةٞ مِّن رَّبِّكُمۡ

"Dan kepada penduduk Madyan, Kami (utus) Syu'aib, saudara mereka sendiri. Dia berkata, "Wahai kaumku! Sembahlah Allah. Tidak ada Tuhan (sembahan) bagimu selain Dia. Sesungguhnya telah datang kepadamu bukti yang nyata dari Tuhanmu."

Yang dimaksud bukti yang nyata adalah petunjuk, hujjah yang jelas, dan petunjuk yang pasti; yang membenarkan dakwah Nabi Syuaib as. Nabi Syuaib as menyuruh mereka untuk berbuat adil dan melarang mereka berbuat dzolim, serta memberikan ancaman apabila mereka melanggar perintah Allah SWT. Sebagaimana telah diceritakan bahwa penduduk Madyan ini suka merampok dan mengganggu pengguna jalan. Ibnu Abbas berkisah bahwa penduduk Madyan adalah orang-orang yang sombong lagi lalim. Mereka duduk di atas jalan; merugikan manusia yaitu mengambil satu dari sepuluh pengguna jalan untuk dirampok. Firman Allah SWT yang artinya:

"... dan menghalang-halangi orang-orang yang beriman dari jalan Allah dan ingin membelokkannya. ...
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 86)

Lalu Nabi Syuaib as melarang kaumnya membegal di jalan. Larangan ini berbentuk keduniawian namun bermakna keukhrowian. Firman Allah SWT yang artinya: "... Ingatlah ketika kamu dahulunya sedikit, lalu Allah memperbanyak jumlah kamu. Dan perhatikanlah bagaimana kesudahan orang-orang yang berbuat kerusakan."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 86)

Nabi Syuaib as mengingatkan kaumnya terhadap ni'mat Allah yaitu diperbanyaknya jumlah mereka dari yang dulunya sedikit. Dan memperingati kaumnya akan siksa Allah apabila mereka ingkar terhadap Nabi Syuaib. Hal ini ditegaskan dalam surat Hud ayat 84, yang artinya: "... Dan janganlah kamu kurangi takaran dan timbangan. Sesungguhnya aku melihat kamu dalam keadaan yang baik (makmur). Dan sesungguhnya aku khawatir kamu akan ditimpa azab pada hari yang membinasakan (kiamat)."

Larangan ini menunjukkan bahwa mereka tidak boleh menunggangi keadaan mereka dan terus menerus pada dosa mereka. Sehingga karena itu Allah akan mencabut ni'mat yang dianugerahkan-Nya, membuat mereka sengsara di dunia, dan melenyapkan harta mereka. Hal ini dihubungkan dengan siksaan di akhirat.

Perintah Allah kepada Penduduk Madyan


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

وَيَٰقَوۡمِ أَوۡفُواْ ٱلۡمِكۡيَالَ وَٱلۡمِيزَانَ بِٱلۡقِسۡطِ ۖ وَلَا تَبۡخَسُواْ ٱلنَّاسَ أَشۡيَآءَهُمۡ وَلَا تَعۡثَوۡاْ فِي ٱلۡأَرۡضِ مُفۡسِدِينَ

بَقِيَّتُ ٱللَّهِ خَيۡرٞ لَّكُمۡ إِن كُنتُم مُّؤۡمِنِينَ ۚ وَمَآ أَنَا۠ عَلَيۡكُم بِحَفِيظٍ

Artinya: "Dan wahai kaumku! Penuhilah takaran dan timbangan dengan adil, dan janganlah kamu merugikan manusia terhadap hak-hak mereka dan jangan kamu membuat kejahatan di Bumi dengan berbuat kerusakan."

"Sisa (yang halal) dari Allah adalah lebih baik bagimu jika kamu orang yang beriman. Dan aku bukanlah seorang penjaga atas dirimu.""
(QS. Hud 11: Ayat 85-86)

Maksud dari sisa (yang halal) dari Allah itu adalah rizki. Jadi dapat dikatakan bahwa rizki dari Allah lebih baik bagi kalian dari pada mengambil harta manusia dengan paksa dan dzolim. Tafsiran yang sesuai dengan konteks ayat ini menyatakan bahwa laba yang akan diterima jika seseorang berlaku jujur dalam timbangan lebih baik dari pada keuntungan yang diambilnya secara licik.

Ayat di atas senada dengan firman Allah, yang artinya: "Katakanlah (Muhammad), "Tidaklah sama yang buruk dengan yang baik, meskipun banyaknya keburukan itu menarik hatimu, ...""
(QS. Al-Ma'idah 5: Ayat 100)

Maksudnya bahwasanya hal sedikit dari harta yang halal lebih baik dari pada yang banyak dari harta yang haram. Karena sesuatu yang halal itu memberi keberkahan walaupun sedikit. Sedangkan harta yang haram itu dicela walaupun banyak.

Hal ini senada dengan firman Allah, yang artinya: "Allah memusnahkan riba dan menyuburkan sedekah."
(QS. Al-Baqarah 2: Ayat 276)

Mereka (penduduk Madyan) harus melaksanakan perintah Allah dengan ikhlas dan mengharapkan pahala hanya dari Allah. Jangan karena melihat posisi Nabi Syuaib atau orang lain. Penduduk Madyan malah memberikan balasan hinaan terhadap ajakan Nabi Syuaib ini dengan mengatakan, "Apakah sholatmu melarang kami dari menyembah sesembahan nenek moyang kami? Apakah perintahmu untuk berbuat baik dalam muamalah mencegah kami dari perbuatan yang kami sukai?" Jawaban Nabi Syuaib, "Tidaklah Aku inginkan kecuali kemaslahatan."

Lalu dikatakanlah kepada mereka, "Jangan sampai apa yang kalian lakukan dari semua pembangkangan ini mendatangkan siksa dari Allah." Mereka sudah mengetahui keadaan manusia sebelum mereka yaitu kaum nabi Nuh, nabi Hud, dan nabi Sholeh. Ancaman ini diiringi dengan harapan baik yaitu mereka masih bisa bertaubat dari dosa-dosanya dengan cara beristighfar kepada Allah.

Demikian pembahasan singkat tentang Kisah Madyan Kaum Nabi Syuaib as. Tunggu kisah-kisah menarik selanjutnya, ya!

Baca juga:

0 Response to "Kisah Madyan Kaum Nabi Syuaib as"

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel