Kisah Nabi Hud as: Pelajaran yang Berharga

muqoddimahku.com - Pada kesempatan kali ini kita akan membahas tentang kisah Nabi Hud as dan juga kaumnya yang membangkang yaitu kaum Ad.

Kisah Nabi Hud as



Riwayat Singkat tentang Nabi Hud


Terdapat tiga pendapat mengenai silsilah Nabi Hud.

1. Hud bin Syalikh bin Arfakhsyad bin Sam bin Nuh (keturunan ke-empat Nabi Nuh).

2. Hud bernama Abir bin Syalikh bin Sam bin Nuh (keturunan ke-tiga Nabi Nuh).

3. Hud bin Abdullah bin Robah bin al-Jarud bin Ad bin Aus bin Irm bin Sam bin Nuh (keturunan ke-delapan Nabi Nuh).

Nabi Hud dan kaumnya tinggal menempati bukit-bukit pasir yang berada di Yaman. Tepatnya di daerah antara Oman dan Hadromaut. Allah SWT berfirman:

أَلَمۡ تَرَ كَيۡفَ فَعَلَ رَبُّكَ بِعَادٍ

"Tidakkah engkau (Muhammad) memerhatikan bagaimana Tuhanmu berbuat terhadap (kaum) `Ad?,"

إِرَمَ ذَاتِ ٱلۡعِمَادِ

"(yaitu) penduduk Iram (ibukota kaum `Ad) yang mempunyai bangunan-bangunan yang tinggi,"

Dalam sebuah keterangan dikatakan bahwa Iran merupakan kota yang berkeliling di bumi. Terkadang di Syam, di Yaman, di Hijaz, atau juga di tempat lain yang tidak tumbuh rumput di sana. Namun keterangan ini tidak memiliki dalil apa pun melainkan hanya sangkaan saja.

Kisah Nabi Hud Merupakan Orang Arab


Nabi Muhammad Saw menjelaskan para Nabi yang mana dijelaskan ada 4 Nabi yang merupakan orang Arab asli. Nabi Muhammad Saw bersabda, yang artinya: "Di antara mereka ada empat yang orang Arab yaitu Hud, Solih, Syuaib, dan Nabimu, hai Abu Dzar!" Sehingga muncu pula sebuah keterangan yang mengatakan bahwa Nabi Hud adalah manusia pertama yang berbicara menggunakan bahasa Arab. Jika dipoinkan, ada beberapa pendapat yang menyebutkan tentang siapa orang yang pertama kali berbicara bahasa Arab.

1. Nabi Hud adalah orang yang pertama kali berbicara bahasa Arab.

2. Ayah Nabi Hud adalah orang yang pertama kali berbicara bahasa Arab.

3. Nabi Nuh adalah orang yang pertama kali berbicara bahasa Arab.

4. Nabi Adam adalah orang yang pertama kali berbicara bahasa Arab.

Penghuni Arab sebelum Nabi Ismail


Orang-orang yang menghuni daerah Arab sebelum Nabi Ismail as disebut orang Arab Aribah. Orang Arab Aribah terdiri dari berbagai kabilah, di antaranya: Ad, Tsamud, Jurhum, Tasm, Jadis, Amim, Madyan, Imlaq, Abil, Jasim, Qahtan, Banu Yaqtun, dan masih banyak lagi. Sedangkan orang Arab pendatang atau sering disebut Arab Musta'ribah adalah keturunan Nabi Ismail.

Nabi Ismail itu sendiri merupakan orang pertama yang berbicara bahasa Arab yang fasih dan baligh. Riwayat kebahasaannya ia terima dari kabilah Jurhum (salah satu kabilah Arab Aribah). Bahasa Arab ini pula lah yang digunakan sampai pada zaman Nabi Muhammad Saw.

Kisah Nabi Hud Diutus kepada Kaum Ad


Kaum Ad generasi pertama adalah kaum yang pertama kali menyembah berhala setelah sebelumnya dimusnahkan pada peristiwa banjir di zaman Nabi Nuh. Mereka memiliki tiga berhala yang mereka namai Sadd, Sumud, dan Hiro. Lalu Allah mengutus Nabi Hud kepada mereka. Kisahnya diabadikan dalam Al-Qur'an surat al-A'rof ayat 65-72, surat Hud ayat 50-60, dan pada surat-surat lainnya.

Nabi Hud berdakwah kepada kaum Ad mengajak untuk menyembah Allah dan mentauhidkan-Nya. Namun kaum Ad malah membohongkan dakwah Nabi Hud. Hal ini dikisahkan dalam firman Allah:

قَالَ ٱلۡمَلَأُ ٱلَّذِينَ كَفَرُواْ مِن قَوۡمِهِۦٓ إِنَّا لَنَرَىٰكَ فِي سَفَاهَةٍ وَإِنَّا لَنَظُنُّكَ مِنَ ٱلۡكَٰذِبِينَ

"Pemuka-pemuka orang-orang yang kafir dari kaumnya berkata, "Sesungguhnya kami memandang kamu benar-benar kurang waras dan kami kira kamu termasuk orang-orang yang berdusta.""
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 66)

Mendapatkan penolakan yang hina tidak lantas membuat Nabi Hud tersulut emosi. Nabi Hud berbalik menasihati kaum Ad dengan lemah lembut. Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

أُبَلِّغُكُمۡ رِسَٰلَٰتِ رَبِّي وَأَنَا۠ لَكُمۡ نَاصِحٌ أَمِينٌ

"Aku menyampaikan kepadamu amanat Tuhanku dan pemberi nasihat yang terpercaya kepada kamu."
(QS. Al-A'raf 7: Ayat 68)

Nabi Hud kemudian menegaskan dakwahnya dengan menyebutkan bahwa Beliau tidak meminta imbalan apa pun atas dakwah yang dilakukannya. Hal ini dikisahkan dalam firman Allah:

يَٰقَوۡمِ لَآ أَسۡئَلُكُمۡ عَلَيۡهِ أَجۡرًا ۖ إِنۡ أَجۡرِيَ إِلَّا عَلَى ٱلَّذِي فَطَرَنِيٓ ۚ أَفَلَا تَعۡقِلُونَ
"Wahai kaumku! Aku tidak meminta imbalan kepadamu atas (seruanku) ini. Imbalanku hanyalah dari Allah yang telah menciptakanku. Tidakkah kamu mengerti?""
(QS. Hud 11: Ayat 51)

Olok-olokan mereka kepada Nabi Hud malah berlanjut. Mereka malah berpikir bahwa berhala mereka yaitu Sadd, Sudud, dan Hiro atau salah satu darinya menimpakan penyakit gila kepada Nabi Hud karena dakwahnya. Namun untuk kesekian kalinya, Nabi Hud bersikeras dengan menjalankan perintah Allah yaitu berdakwah dan bertawakal dalam dakwahnya.

Sama seperti kaum kafir lainnya, kaum Ad pun mengolok-olok seorang utusan dari kalangan manusia. Firman Allah SWT:

أَكَانَ لِلنَّاسِ عَجَبًا أَنۡ أَوۡحَيۡنَآ إِلَىٰ رَجُلٍ مِّنۡهُمۡ أَنۡ أَنذِرِ ٱلنَّاسَ وَبَشِّرِ ٱلَّذِينَ ءَامَنُوٓاْ أَنَّ لَهُمۡ قَدَمَ صِدۡقٍ عِندَ رَبِّهِمۡ ۗ قَالَ ٱلۡكَٰفِرُونَ إِنَّ هَٰذَا لَسَٰحِرٞ مُّبِينٌ

"Pantaskah manusia menjadi heran bahwa Kami memberi wahyu kepada seorang laki-laki di antara mereka, "Berilah peringatan kepada manusia dan gembirakanlah orang-orang beriman bahwa mereka mempunyai kedudukan yang tinggi di sisi Tuhan." Orang-orang kafir berkata, "Orang ini (Muhammad) benar-benar pesihir.""
(QS. Yunus 10: Ayat 2)

Kaum Ad Bermewahan Tanpa Ada Manfaatnya


Allah Subhanahu Wa Ta'ala berfirman:

أَتَبۡنُونَ بِكُلِّ رِيعٍ ءَايَةً تَعۡبَثُونَ

"Apakah kamu mendirikan istana-istana pada setiap tanah yang tinggi untuk kemegahan tanpa ditempati,"
(QS. Asy-Syu'ara' 26: Ayat 128)

Kaum Ad tidak memanfaatkan bangunan mereka karena memang tidak bisa dimanfaatkan. Mereka hanya melakukan hal-hal yang tidak berguna. Bagaimana tidak, mereka membangun bangunan yang mewah tetapi malah meninggali tenda-tenda.

Kaum Ad juga menantang Nabi Hud agar mendatangkan bukti kenabiannya. Namun pada dasarnya, mereka tetap tidak akan beriman. Mereka hanya mengolok-olok agar Nabi Hud mendatangkan siksa dari Allah SWT. Kemudian Nabi Hud berdoa kepada Allah meminta pertolongan. Hal ini diabadikan dalam firman Allah:

قَالَ رَبِّ ٱنصُرۡنِي بِمَا كَذَّبُونِ

"Dia (Hud) berdoa, "Ya Tuhanku, tolonglah aku karena mereka mendustakan aku.""
(QS. Al-Mu'minun 23: Ayat 39)

Sehingga Allah SWT menurunkan siksa-Nya kepada kaum Ad. Firman Allah:

فَلَمَّا رَأَوۡهُ عَارِضًا مُّسۡتَقۡبِلَ أَوۡدِيَتِهِمۡ قَالُواْ هَٰذَا عَارِضٞ مُّمۡطِرُنَا ۚ بَلۡ هُوَ مَا ٱسۡتَعۡجَلۡتُم بِهِۦ ۖ رِيحٞ فِيهَا عَذَابٌ أَلِيمٞ

"Maka ketika mereka melihat azab itu berupa awan yang menuju ke lembah-lembah mereka, mereka berkata, "Inilah awan yang akan menurunkan hujan kepada kita." (Bukan!) Tetapi itulah azab yang kamu minta agar disegerakan datangnya, (yaitu) angin yang mengandung azab yang pedih,"
(QS. Al-Ahqaf 46: Ayat 24)

Siksaan Kepada Kaum Ad


Diceritakan bahwa ketika mereka menolak dakwah Nabi Hud dan tetap memegang teguh kekafiran dan kemusyrikannya, mereka dilanda kemarau berkepanjangan selama tiga tahun. Hal itu sangat menyusahkan mereka. Untuk kita ketahui pula bahwa orang-orang di zaman itu juga sangat menghormati tanah haram Mekkah dan baitullah. Begitu pula dengan kaum Ad yang rela mengunjungi tanah haram Mekkah demi meminta hujan kepada Allah.

Lalu diutuslah 70 orang dari kaum Ad untuk mengunjungi baitullah. Para utusan itu menemui pemimpin Mekkah yang bernama Muawiyah bin Bakr (keturunan kabilah Imliq). Para utusan tinggal di kediaman Muawiyah bin Bakr selama kurang lebih satu bulan dengan aktifitas bermabuk-mabukan dan bernyanyi-nyanyian.

Selepas membuang-buang waktu untuk hanya bersenda gurau, mereka teringat tujuan mereka yaitu mengunjungi baitullah. Lantas para utusan itu pergi menuju baitullah. Mereka berdoa untuk kaumnya dari bencana kemarau panjang. Lalu muncullah tiga awan dengan masing-masing berwarna putih, merah, dan hitam.

Para utusan itu tertarik dengan awan hitam yang mereka sangka akan mendatangkan banyak air hujan. Namun nyatanya awal hitam itu hanya akan membinasakan seluruh kaum Ad yang membangkang kepada Nabi Hud as. Diceritakan pula bahwa orang yang pertama kali menyadari awan tersebut merupakan awan siksa dari Allah adalah seorang wanita yang bernama Mahd. Ia mengatakan bahwa ia melihat angin itu seperti hembusan api yang dikendalikan oleh banyak orang.

Menurut beberapa pendapat dari para ulama, nama ayah Nabi Hud adalah Abdullah bin Ribah bin Khulud bin Ad nin Aus bin Irim bin Syam bin Nuh. Syam adalah putra dari Nabi Nuh, sehingga Nabi Hud merupakan cicit dari Nabi Nuh.

Nabi Hud diutus oleh Allah untuk menyerukan kaum 'Aad agar menyembah Allah dan meninggalkan penyembahan berhala. Namun, kaum 'Aad menolak seruan Nabi Hud dan tetap menyembah berhala. Oleh karena itu, Allah menurunkan azab kepada kaum 'Aad berupa angin kencang yang menghancurkan mereka.

Demikian pembahasan tentang kisah Nabi Hud. Semoga bermanfaat.

Baca juga:

0 Response to "Kisah Nabi Hud as: Pelajaran yang Berharga "

Post a Comment

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel